KALTIMTARA.ID, TANJUNG REDEB – Sekitar 6.500 warga Kabupaten Berau sempat berharap bisa mendapatkan sambungan air bersih secara gratis. Mereka mendaftar dalam program Sambungan Rumah (SR) yang diusulkan melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2024.
Namun, harapan itu belum terwujud. Anggaran dari pemerintah pusat yang diharapkan membiayai program tersebut tidak turun. Akibatnya, seluruh usulan SR gratis dinyatakan gugur.
Kebutuhan masyarakat terhadap air bersih pun tetap ada. Sebagai alternatif, Perumda Air Minum Batiwakkal Berau kini menawarkan pemasangan sambungan baru dengan skema pembayaran secara bertahap hingga empat kali.
Manajer Hubungan Masyarakat Perumda Air Minum Batiwakkal, Rudy Hartono, mengatakan skema cicilan tersebut menjadi salah satu upaya perusahaan untuk membantu masyarakat memperoleh akses air bersih melalui jaringan perpipaan.
“Program cicilan empat kali hanya kontinu kami berikan untuk unit pedesaan. Sedangkan dalam kota kami berikan pada momen tertentu setiap tahunnya, seperti HUT RI atau HUT Kabupaten Berau,” ujar Rudy saat ditemui di kantornya baru-baru ini.
Biaya pemasangan sambungan baru yang mencapai Rp2,738 juta disebut menjadi salah satu pertimbangan masyarakat. Dengan sistem cicilan, warga tidak harus membayar seluruh biaya pemasangan sekaligus.
“Program cicilan ini diharapkan dapat meringankan biaya pemasangan Rp2,738 juta. Sambungan baru menjadi bagian dari upaya memperluas akses pelayanan air bersih kepada masyarakat,” jelasnya.
Besarnya kebutuhan masyarakat terhadap sambungan air bersih terlihat dari jumlah pendaftar program SR gratis.
Hingga pendaftaran ditutup pada Januari 2024, sekitar 6.500 warga dari seluruh Kabupaten Berau tercatat mengajukan permohonan.
Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan air bersih melalui jaringan perpipaan. Namun, banyaknya pendaftar tidak berujung pada pemasangan sambungan.
Rudy mengatakan, program tersebut akhirnya tidak dapat direalisasikan karena anggaran dari pemerintah pusat tidak turun.
“Sekitar 6.500 warga mendaftar. Itu karena anggaran dari pemerintah pusat tidak turun, sehingga seluruh usulan SR gratis dinyatakan gugur,” katanya.
Menurut Rudy, kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa biaya pemasangan masih menjadi salah satu pertimbangan masyarakat untuk memiliki sambungan air sendiri.
“Biaya pendaftaran memang menjadi pertimbangan masyarakat untuk merealisasikan SR. Terbukti saat SR gratis dibuka, pendaftarnya sangat banyak,” ujarnya.
Gagalnya program gratis tidak berarti kesempatan masyarakat untuk mendapatkan sambungan air bersih tertutup.
Perumda Batiwakkal kini mendorong warga, termasuk mereka yang sebelumnya telah mendaftar program SR gratis, untuk merealisasikan pemasangan melalui skema cicilan.
Program tersebut diberikan secara kontinu bagi masyarakat di wilayah pedesaan. Sementara di wilayah perkotaan, skema cicilan diberikan pada momentum tertentu setiap tahunnya.
Sosialisasi pun terus dilakukan agar masyarakat mengetahui alternatif tersebut.
“Pendekatan dan sosialisasi terus kami lakukan agar warga yang gagal mendapatkan program sambungan gratis dapat merealisasikan pendaftaran SR melalui program cicilan empat kali,” tandas Rudy.
Bagi Perumda Batiwakkal, skema tersebut bukan hanya soal meringankan biaya pemasangan. Program itu juga menjadi bagian dari upaya memperluas cakupan pelayanan air bersih, terutama di wilayah pedesaan.
Dengan kebutuhan masyarakat yang tetap tinggi, sambungan air bersih kini tidak lagi bergantung pada program gratis. Warga memiliki pilihan untuk merealisasikan pemasangan secara mandiri dengan pembayaran yang dilakukan bertahap.
Dari 6.500 warga yang sempat menunggu sambungan gratis, kini pilihan tersebut bergeser: memasang sambungan dengan biaya sendiri melalui skema cicilan.
penulis : Aril
Editor : Indra













Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.