Sungai Segah Kian Dangkal, Perumda Batiwakkal Berau Berpacu Menjaga Pasokan Air Bersih di Tengah Lonjakan Kebutuhan Pelanggan

Subscribe Youtube KALTIMTARA NEWS

KALTIMTARA.ID, TANJUNG REDEB – Endapan lumpur yang terus menumpuk di Sungai Segah menjadi tantangan bagi Perumda Batiwakkal Berau dalam menjaga keberlangsungan pelayanan air bersih. Pengerukan yang pernah menelan biaya hingga ratusan juta rupiah belum menyelesaikan persoalan secara permanen. Setelah kondisi kembali normal, sedimentasi kembali terjadi.

Persoalan ini menjadi semakin penting ketika kebutuhan air bersih masyarakat Kabupaten Berau terus meningkat. Di satu sisi, jumlah pelanggan bertambah setiap tahun. Di sisi lain, kondisi sumber air baku dan kapasitas instalasi pengolahan air masih menjadi tantangan bagi perusahaan daerah tersebut.

Direktur Perumda Batiwakkal Berau, Saipul Rahman, mengatakan kondisi instalasi pengambilan air baku (intake) yang dibangun pada 2008 itu kini menghadapi perubahan lingkungan yang cukup signifikan.

Pendangkalan di sekitar intake membuat perusahaan harus menghadapi persoalan berulang dalam menjaga kelancaran pengambilan air baku dari Sungai Segah.

Menurut Saipul, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan teknis di sekitar fasilitas pengambilan air. Sedimentasi juga berpengaruh terhadap upaya perusahaan menjaga kontinuitas pelayanan sekaligus meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus bertambah.

“Bagi Perumdam Batiwakkal, kondisi ini bukan lagi sekadar persoalan teknis di lokasi pengambilan air baku. Pendangkalan Sungai Segah mulai berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan menjaga kontinuitas pelayanan sekaligus meningkatkan kapasitas produksi air bersih untuk memenuhi pertumbuhan jumlah pelanggan,” ujar Saipul saat ditemui di kantornya di Jalan Raja Alam, Tanjung Redeb.

Berbagai upaya telah dilakukan Perumda Batiwakkal untuk mengatasi pendangkalan di sekitar intake. Salah satunya melalui pengerukan secara mandiri, terutama ketika kondisi sungai surut dan endapan lumpur mulai mengganggu proses pengambilan air baku.

Namun, upaya tersebut belum memberikan hasil yang bertahan lama.

Saipul mengungkapkan, perusahaan pernah mengeluarkan biaya hingga ratusan juta rupiah untuk pengerukan di sekitar fasilitas pengambilan air baku tersebut. Setelah pengerukan dilakukan, proses pengambilan air memang kembali normal. Akan tetapi, kondisi itu tidak berlangsung lama karena sedimentasi kembali terjadi.

“Kami sudah mengambil langkah. Beberapa tahun lalu, kami pernah melakukan pengerukan secara mandiri di sekitar intake. Kami mengeluarkan biaya sampai ratusan juta rupiah. Setelah dilakukan pengerukan, proses pengambilan air memang kembali normal, tetapi tidak bertahan lama,” ungkapnya.

Situasi tersebut membuat persoalan sedimentasi seolah berulang. Ketika endapan lumpur mulai menghambat pengambilan air, pengerukan dilakukan untuk memulihkan kondisi. Namun, material yang terbawa arus sungai kembali menumpuk di sekitar intake.

Akibatnya, pengerukan yang dilakukan belum dapat menjadi solusi jangka panjang bagi perusahaan.

Saipul menilai persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan membersihkan endapan di sekitar fasilitas pengambilan air. Penanganan perlu melihat kondisi sungai secara lebih menyeluruh karena sedimentasi juga terjadi di sepanjang alur Sungai Segah.

“Kalau hanya mengeruk di sekitar intake, persoalannya tidak akan pernah selesai. Sumber persoalannya berada di sepanjang alur Sungai Segah yang terus mengalami pendangkalan. Sedimentasi akan terus terbawa arus menuju lokasi pengambilan air,” jelasnya.

Persoalan sedimentasi bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi Perumda Batiwakkal. Pertumbuhan jumlah pelanggan juga menuntut perusahaan meningkatkan kemampuan produksi agar pelayanan dapat mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat.

Saipul mengatakan, pertambahan pelanggan setiap tahun belum sepenuhnya diimbangi peningkatan kapasitas instalasi pengolahan air.

Kondisi ini menempatkan perusahaan pada tantangan untuk menjaga pelayanan yang berjalan saat ini sekaligus memenuhi kebutuhan air bersih yang terus berkembang.

“Bayangkan, jumlah pelanggan terus bertambah setiap tahun, tetapi kemampuan instalasi pengolahan air belum berkembang sebanding dengan pertumbuhan kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Di tengah kondisi tersebut, perusahaan juga harus memastikan proses pengolahan air tetap berjalan sembari menjaga distribusi kepada pelanggan.

Saipul mengungkapkan, salah satu tantangan yang dihadapi adalah menjaga agar pelayanan tetap berlangsung ketika air baku membutuhkan proses penanganan yang memadai.

“Yang menjadi tantangan terberat, air belum sempat diendapkan secara optimal, tetapi tetap harus dikirim ke masyarakat agar masyarakat tetap mendapatkan air dengan lancar,” katanya.

Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan distribusi dan proses pengolahan air. Meski pelayanan harus terus berjalan, tahapan pengolahan tetap menjadi bagian penting untuk memastikan air yang didistribusikan memenuhi persyaratan kualitas yang berlaku.

Bagi Perumda Batiwakkal, sedimentasi Sungai Segah membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh. Pengerukan di sekitar intake dinilai hanya membantu memulihkan proses pengambilan air untuk sementara, sementara endapan lumpur berpotensi kembali menumpuk.

Karena itu, Saipul menilai diperlukan perencanaan jangka panjang untuk menghadapi perubahan kondisi sungai dan menjaga keberlanjutan sumber air baku yang dimanfaatkan perusahaan.

Penanganan sedimentasi menjadi penting bukan hanya untuk mendukung operasional intake, tetapi juga dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi guna memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Berau.

Tantangan tersebut memperlihatkan dua persoalan yang perlu mendapat perhatian: kondisi sumber air baku yang terus menghadapi sedimentasi dan kebutuhan peningkatan kapasitas produksi seiring bertambahnya pelanggan.

Tanpa penanganan yang menyeluruh, Perumda Batiwakkal akan tetap menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan kemampuan produksi dengan kebutuhan pelayanan yang terus berkembang.

Ke depan, penanganan sedimentasi Sungai Segah membutuhkan perhatian dan koordinasi pihak-pihak yang berwenang agar solusi yang ditempuh tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mendukung keberlanjutan pemanfaatan sumber air baku untuk masyarakat Berau.

Penulis : Aril
Editor : Dewi