Di Balik Pesona Wisata Derawan, Ada Persoalan Sanitasi Yang Perlu Diwaspadai

Subscribe Youtube KALTIMTARA NEWS

KALTIMTARA.ID, TANJUNG REDEB– Pesona wisata Pulau Derawan, Kabupaten Berau, menyimpan persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian serius. Kedekatan septic tank dengan sumur warga, yang menurut pengamatan Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal, Saipul Rahman, hanya berjarak beberapa meter, memunculkan kebutuhan untuk memeriksa keamanan sumber air yang digunakan masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pengembangan pariwisata di kawasan kepulauan tidak cukup hanya mengandalkan daya tarik alam. Sanitasi yang memadai, pengelolaan limbah, dan perlindungan sumber air juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Saipul mengatakan, jarak septic tank dan sumur warga perlu menjadi perhatian bersama karena pengelolaan sanitasi yang tidak memadai berpotensi meningkatkan risiko pencemaran air tanah.

“Apalagi jarak antara septic tank dengan sumur itu hanya beberapa meter,” ujar Saipul saat diwawancarai seusai rapat dengar pendapat (RDP) bersama anggota DPRD Berau, baru-baru ini.

Meski demikian, kedekatan kedua fasilitas tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa air sumur telah tercemar. Kondisi tanah, konstruksi sumur, sistem sanitasi, serta karakteristik lingkungan setempat perlu diperiksa untuk mengetahui tingkat risikonya.

Karena itu, Saipul menekankan pentingnya pemeriksaan teknis dan pengujian kualitas air oleh instansi berwenang. Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi sumber air sekaligus menentukan tindakan yang sesuai apabila ditemukan persoalan sanitasi.

“Meski demikian, tingkat risiko pencemaran di suatu lokasi perlu ditentukan melalui pemeriksaan teknis dan pengujian kualitas air oleh instansi berwenang,” terangnya.

Persoalan lingkungan yang disorot Saipul tidak hanya berkaitan dengan sanitasi di Pulau Derawan. Di kawasan Teluk Harapan, Maratua, ia juga menyoroti pengelolaan sampah dan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak ditangani secara tepat.

Sampah rumah tangga, kaleng cat, barang elektronik bekas, sisa bahan bakar, hingga oli bekas menjadi sejumlah jenis limbah yang perlu mendapat perhatian. Penanganan yang tidak memadai berpotensi menimbulkan pencemaran di lingkungan sekitar, termasuk mengancam kualitas sumber air apabila limbah mencapai kawasan resapan atau sumber air.

“Kami hanya mengingatkan bahwa perlindungan sumber air harus berjalan seiring dengan pengelolaan sampah dan limbah domestik,” katanya.

Bagi kawasan kepulauan yang mengandalkan sektor pariwisata, persoalan tersebut menjadi penting karena kebutuhan air bersih tidak hanya menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat, tetapi juga mendukung aktivitas usaha dan kunjungan wisatawan.

Menurut Saipul, perencanaan pembangunan pariwisata perlu memperhitungkan kesiapan infrastruktur sanitasi, pengelolaan sampah, serta perlindungan sumber air. Tanpa perhatian terhadap aspek tersebut, perkembangan kawasan wisata berpotensi menambah tekanan terhadap lingkungan.

Ia menilai, penanganan sanitasi dan sampah perlu dilakukan secara terpadu. Pemeriksaan kondisi sumur warga, evaluasi fasilitas sanitasi, serta penguatan pengelolaan limbah dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan pencemaran.

Pemeriksaan lapangan di Pulau Derawan juga diperlukan untuk memastikan kondisi fasilitas sanitasi dan kualitas air yang digunakan masyarakat. Hasilnya dapat menjadi dasar bagi instansi terkait dalam menentukan kebutuhan perbaikan serta memberikan rekomendasi teknis untuk melindungi sumber air.

Pada saat yang sama, pengelolaan sampah dan limbah domestik di Teluk Harapan, Maratua, perlu mendapat perhatian agar potensi pencemaran lingkungan dapat diminimalkan.

Saipul menegaskan, menjaga sumber air di kawasan kepulauan bukan sekadar memenuhi kebutuhan saat ini, melainkan juga bagian dari upaya mempertahankan kualitas lingkungan di tengah perkembangan pariwisata.

“Menjaga air bersih di Derawan dan Maratua bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan masyarakat hari ini, tetapi juga memastikan sumber air tetap terlindungi di tengah perkembangan kawasan kepulauan sebagai tujuan wisata,” tutupnya.

Penulis : Tim
Editor : Dewi