Jadikan Berau Barometer Asia Tenggara, Pemkab dan WWF Rancang Standar Baru Pengelolaan Sampah Kepulauan ‎

Subscribe Youtube KALTIMTARA NEWS

‎KALTIMTARA.ID, BERAU – Langkah strategis diambil Pemerintah Kabupaten Berau dalam memposisikan diri sebagai pusat pembelajaran manajemen limbah pesisir di level Asia Tenggara. Melalui kemitraan erat dengan Yayasan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Bumi Batiwakkal menjadi tuan rumah bagi delegasi mancanegara dalam tajuk ‘Plastic Smart Islands Learning Exchange’.

‎Bertempat di Hotel Mercure, Selasa (12/5/2026), forum ini menjadi ruang konvergensi bagi praktisi lingkungan dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Fokus utamanya bukan sekadar seremonial, melainkan membedah pola komunikasi dan koordinasi antar-lembaga yang selama ini menjadi tulang punggung keberhasilan program lingkungan di Kabupaten Berau.

‎Responsible Marine Tourism Manager WWF Indonesia, Ratna, menekankan bahwa Berau memiliki keunikan pada aspek “modal sosial” dan kerja sama antar-instansi yang solid. Hal inilah yang menjadi alasan kuat mengapa para delegasi dari negara tetangga diarahkan untuk mengamati langsung dinamika di Berau.

‎”Kami mengidentifikasi bahwa kekuatan utama Berau terletak pada efektivitas kolaborasi intersektoralnya. Inilah ‘lesson learn’ yang ingin kami bagikan kepada rekan-rekan dari luar negeri, agar model kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta maupun LSM dalam inisiatif Plastic Smart Islands dapat direplikasi secara global,” tuturnya.

‎Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Berau melihat agenda ini sebagai momentum untuk menyempurnakan regulasi lokal. Wakil Bupati Berau, Gamalis, secara lugas memaparkan bahwa tantangan terbesar daerah kepulauan adalah memutus rantai ketergantungan pada plastik sekali pakai, mengingat dampaknya yang langsung merusak citra pariwisata dan kualitas lingkungan hidup.

‎”Kami di jajaran Pemerintah Daerah menaruh perhatian sangat besar pada tata kelola sampah, khususnya plastik, agar tidak sekadar berakhir di tempat pembuangan akhir. Target kami adalah menciptakan skema di mana sampah diolah kembali hingga memiliki nilai ekonomi. Saya sangat berharap, dari forum ini, tercipta standar operasional prosedur yang benar-benar ideal bagi kondisi geografis pulau-pulau kita,” ujar Gamalis.

‎Program yang mengakar pada prinsip ekonomi sirkular 3R (Reduce, Reuse, Recycle) ini dipandang sebagai instrumen preventif yang paling konkret untuk menyelamatkan ekosistem laut Berau dari ancaman mikroplastik. Sinergi antara kebijakan publik yang didorong Pemkab Berau serta asistensi teknis dari WWF Indonesia diharapkan mampu memberikan proteksi jangka panjang bagi masa depan maritim di kawasan ini.

‎Pertemuan selama empat hari ini diproyeksikan akan menghasilkan dokumen kesepahaman dan peta jalan baru bagi pengelolaan sampah di wilayah kepulauan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (Adv)

 

Penulis : Dewi