Tangkal Paham Radikalisme, Kapolres Berau Ajak Kerjasama Tokoh Masyarakat dan Agama Jaga Kondusifitas

Subscribe Youtube KALTIMTARA NEWS

KALTIMTARA.ID, TANJUNG REDEB – Walau situasi keamanan sudah mulai kondusif kembali pasca aksi terorisme yang terjadi belakangan ini, namun aparat keamanan khususnya di Kabupaten Berau tak mau terlena.

Di akhir kuartal awal tahun 2021, Indonesia beberapa kali diserang teroris. Diantaranya, kasus bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021. Selang tiga hari kemudian, pada 31 Maret 2021, Mabes Polri diserang.

Sebelumnya, kasus terorisme juga sempat muncul di Bumi Batiwakkal (Sebutan Berau). Pada 19 Maret 2019 silam, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melakukan penangkapan terhadap seorang pemuda yang diduga terpapar paham radikalisme oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Kabupaten Berau. Tak dapat dipungkiri, seluruh daerah tentu memiliki potensi masuknya pelaku teroris.

Kapolres Berau AKBP Edy Setyanto Erning Wibowo mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan berbagai upaya antisipasi, mencegah pelaku terorisme masuk ke Bumi Batiwakkal –sebutan Kabupaten Berau- dengan menyebar sejumlah personel untuk melakukan patroli dan melibatkan masyarakat jika munculnya berbagai pergerakan yang dianggap tidak biasa.

“Antisipasi pasti, karena itu kami terus melakukan pengawasan. Kami harap, masyarakat juga dapat bekerja sama dengan kami. Jika ada seseorang yang mencurigakan atau melakukan kebiasaan menyimpang segera laporkan ke kami,” katanya, Rabu (7/4/2021).

“Terjadinya aksi terorisme ini, saya menyampaikan kepada seluruh masyarakat Berau tidak perlu panik, namun tetap kita harus waspada,” tegas Edy.

“Saya lihat di Berau ini masih aman, juga tempat ibadah selalu kami jaga bahkan sebelum kasus bom di Makassar dan penyerangan di Mabes, kita sudah rutin melakukan penjagaan di rumah ibadah guna mengantisipasi gangguan Kamtibmas,” ujarnya.

Ia juga meminta masyarakat untuk aktif melapor jika ada orang yang dinilai mempunyai gerak-gerik mencurigakan.

“Jadi kalau ada orang yang mencurigakan atau agak rawan bisa disampaikan kepada kami. Maka kami akan langsung melakukan tindakan. Kami bersama TNI rutin melakukan pengamanan,” bebernya.

Dalam pelaksanaan kegiatan ibadah Jumat Agung, Shalat Jumat, hingga peringatan Hari Paskah dan kegiatan keagamaan lainnya, orang nomor satu di Polres Berau itu menurunkan 324 personelnya, baik personel Polres Berau maupun jajarannya untuk melakukan pengamanan.

“Hal tersebut dilakukan agar dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat. Sehingga dapat khusyuk melaksanakan ibadah,” ungkapnya.

Dalam pengamanan tersebut, juga dibantu oleh TNI dan Brimob. Bukan hanya ancaman terorisme, petugas juga diturunkan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) saat berlangsungnya kegiatan keagamaan.

“Selain koordinasi antar petugas keamanan, kita juga berkoordinasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama maupun panitia pelaksana kegiatan ibadah, sehingga berjalan lancar, aman dan tertib,” bebernya.

Kapolres menuturkan, memakai jilbab atau pakaian keagamaan itu bukan berarti simbol teroris. Justru, orang-orang yang tidak bertanggung jawab menyalahgunakannya untuk aksi terorisme.

“Semua agama mengajarkan kasih sayang. Tidak ada agama yang membenarkan untuk menyakiti orang lain, apalagi sampai membunuh,” tandasnya.

Penulis: TIM